Thursday, 16 May 2013

Pengendalian Hama Uret pada Tanaman Tebu





Oleh :

Dra. M. A. Sri Hartati,
Kepala Seksi Proteksi Tanaman.



Uret merupakan salah satu hama penting pada perkebunan tebu di Indonesia, terutama pada lahan kering dengan tipe tanah ringan berpasir. Serangan hama uret terjadi setiap tahun terutama di wilayah HGU Jengkol PG Pesantren Baru dan HGU Sumber Lumbu PG Ngadiredjo. Namun saat ini juga penyerangan pada tanaman tebu sudah meluas ke beberapa wilayah PG Meritjan, PG Tjoekir, PG Jombang Baru dan PG Kremboong.

Jenis-jenis uret yang menyerang tebu di Indonesia antara lain Lepidiota stigma F, Euchlora viridis F., Holotrichia helleri, Leucopholis rorida, Psilopholis sp. dan Pachnessa nicobarica spp (Soehartawan, 1990; Djoenadi Samoedi, 1993). Berdasarkan hasil pengamatan Pusat Penelitian Gula PTPN X, di wilayah PTPN X didominasi oleh jenis Lepidiota stigma F. dan Euchlora viridis F.


Gejala serangan dan kerugian :
Gejala serangan hama uret ini pada dasarnya relatif sama untuk semua jenis uret

Tanda-tanda serangan :

  1. Daun layu dan menguning lalu kering dan mati
  2. Akar tanaman habis dimakan uret
  3. Bagian pangkal batang terdapat luka-luka bekas digerek
  4. Bagian pangkal batang serta sekitar perakaran terdapat uret
  5. Pada serangan yang berat tanaman mudah roboh dan mudah dicabut karena akar-akarnya dimakan uret

Adapun kerugian akibat serangan uret:
  • Pada tanaman tebu muda dapat menyebabkan kematian tanaman, sehingga perlu penanaman ulang.
  • Pada tanaman yang lebih tua dapat mengakibatkan terjadinya penurunan hasil atau bahkan gagal panen.
  • Pada tanaman tebu menjelang ditebang, maka akan menyebabkan kondisi pertumbuhan yang jelek pada tanaman tebu keprasan periode berikutnya.

Batas ambang kerugian ekonomis (economic threshold) uret jenis Lepidiota stigma F. terjadi apabila jumlah populasi sudah mencapai 4 - 5 ekor per rumpun tebu (Wirioatmodjo, 1970).

Peta uret

Dikarenakan lahan HGU PG Pesantren Baru dan PG Ngadiredjo setiap tahun mengalami serangan hama uret, Pusat Penelitian Gula - Jengkol bekerjasama dengan kedua PG tersebut untuk memetakan uret setiap 3 - 4 tahun sekali. Dengan demikian dapat diketahui pola penyebaran dan intensitas serangan hama uret.

 Peta Uret

 
Pembuatan peta serangan perlu dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya perubahan status kategori serangan pada setiap petak. Hal ini akan berpengaruh pada tindakan pengendalian berikutnya, juga untuk evaluasi terhadap tindakan pengendalian yang pernah dilakukan sebelumnya.

Cara Pengendalian Hama Uret  (Lepidiota stigma F.)
Hama uret jenis Euchlora viridis F. memerlukan waktu sekitar 8 bulan untuk menyelesaikan satu siklus hidupnya, sedangkan jenis Lepidiota stigma F. memerlukan waktu sekitar 12 bulan.


Adapun metode pengendalian dapat diterapkan pengendalian hama terpadu :

1. Monitoring imago dengan light trap
Light trap sebagai sarana monitoring, untuk mengetahui secara pasti saat aktivitas penerbangan kumbang/imago uret, mulai terjadi jangka waktu musim penerbangan, serta saat terjadinya aktivitas penerbangan terbanyak .
Data hasil light trap dapat digunakan untuk memprediksi saat mulai banyak dijumpai telur di lapangan, saat telur banyak menetas, dan saat larva mulai banyak menyerang perakaran tebu, dengan demikian dapat direncanakan antisipasi tindakan pengendalian yang sesuai dan diperlukan pada periode-periode berikutnya.

2. Pengendalian dengan pengumpulan imago secara manual (gropyokan atau dengan light trap)
Tujuannya untuk memutus siklus hidup uret dengan membunuh sebanyak mungkin kumbangnya. Namun perlu diwaspadai gropyokan ini bisa gagal apabila kumbang-kumbang yang tertangkap telah meletakan telurnya. Pengendalian ini biasanya dilakukan pada dua minggu awal hujan biasanya bulan Oktober  - pertengahan  Desember.


Penggunaan Light Trap di HGU Sumber Lumbu PG Ngadiredjo
 



1. Penentuan saat masa tanam
Penentuan saat masa tanam yang aman dari serangan hama uret juga merupakan bagian pengendalian hama terpadu uret. Selanjutnya ditentukan varietas tebu yang sesuai misalnya masak awal, tengah atau akhir.

2. Pengumpulan larva uret secara manual
Pengumpulan larva uret sacara manual bersamaan dengan saat pengolahan tanah secara mekanisasi yang sekaligus juga merupakan pengendalian secara kultur teknis.


3. Pengendalian Kimiawi
Pengendalian hama uret dengan menggunakan insektisida tanah misal : Rugby 10 G, Diazinon 10 G, Furadan 3 G, Petrofur 3 G, Rhocab, dll. Pengendalian dengan insektisida tanah dilakukan pada saat tanam, dengan cara ditabur bersama dengan pupuk pada dasar juringan. Perlu diingat bahwa pemakaian insektisida diatur agar tidak terus menerus dengan bahan aktif yang sama dan tidak meningkatkan dosis insektisida tersebut.  Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi resistensi terhadap jenis insektisida tertentu. Sebaiknya satu jenis bahan aktif insektisida, hanya digunakan maksimal 2-3 periode tanam tebu, lebih dari itu harus segera diganti dengan jenis bahan aktif yang lain. Pemberian insektisida tanah pada waktu tanaman tebu sudah besar, pernah dilaksanakan kerjasama dengan P3GI namun sulit pelaksanaannya dan mahal.


Melalui penerapan Pengendalian Hama Terpadu diharapkan dapat mengeliminir kerugian akibat serangan hama uret secara nyata.



Daftar Pustaka

Wirioatmodjo, B. 1970. Hama Tebu. Himpunan Diktat Kursus Tanaman. BP3G Pasuruan.
Samoedi, D. 1993. Hama-Hama Penting Pertanaman Tebu di Indonesia. P3GI Pasuruan.
Pramono, D. 2005. Seri Pengelolaan Hama Tebu Secara Terpadu.