Kantor Pusat Penelitian Gula

Penataran Jengkol, Desa Plosokidul, Kecamatan Plosoklaten, Kediri 64175 - Jawa Timur.

Laboratorium Kultur Jaringan

Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman tebu.

Laboratorium Tanah, Pupuk dan Daun

Laboratorium Pengujian Tanah, Pupuk Dan Daun (Tanaman Tebu)

Pelayanan Bibit

Pelayanan Bibit di Wilayah PTPN X.

'Bangsal Persilangan

Persilangan Tanaman Tebu.

Laboratorium Hama dan Penyakit

Laboratorium Hama dan Penyakit (Tanaman Tebu).

Mekanisasi

Implemen mekanisasi di Pusat Penelitian Gula.

Pages

Tuesday, 11 December 2018

Seminar Nasional Pembangunan Pertanian III: Sumberdaya dan Kebijakan Pembangunan Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya


Seminar Nasional Pembangunan Pertanian III: Sumberdaya dan Kebijakan Pembangunan Pertanian di Era Revolusi Industri 4.0
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, 01 Desember 2018



Oleh : Sabar Dwi Komarrudin



Abstrak

Pabrik Gula Gempolkrep, Mojokerto merupakan salah satu Pabrik Gula terbesar di bawah naungan PT Perkebunan Nusantara X. Kecamatan Mantup yang berada di Kabupaten Lamongan merupakan salah satu wilayah binaan PG Gempolkrep. Keberhasilan Pengembangan Tebu Rakyat adalah bagaimana pihak-pihak terkait yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat dapat menjalankan peran untuk meningkatkan produktivitas tebu dan memenuhi pasokan bahan baku gula yang dibutuhkan pabrik gula. PG Gempolkrep manjalik kemitraan dengan KPTR Rosan Makmur dalam pengembangan areal tebu di Kecamatan Mantup. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dan komparatif. Data diperoleh dengan wawancara dan penelusuran dokumen, literatur atau laporan-laporan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui peraan Pabrik Gula dan Koperasi dalam pengembangan tebu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran PG Gempolkrep dan KPTR Rosan Makmur dalam pengembangan tebu di Kecamatan Mantup, Kabupaten Lamongan sangat penting. Kemitraan yang terjalin secara baik dapat meningkatkan luas areal dan produksi tebu. Begitu juga dalam hal penyaluran kredit dari bank juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.


Thursday, 6 December 2018

Implementasi Pertanian Berkelanjutan di PTPN X Untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem Dan Meningkatkan Produktivitas


Implementasi Pertanian Berkelanjutan di PTPN X Untuk  Menjaga Keseimbangan Ekosistem Dan Meningkatkan Produktivitas
Oleh : Dita Widi Atmaja

Abstrak
PTPN X menerapkan pertanian berkelanjutan dalam rangka mewujudkan peningkatkan produktivitas secara berkelanjutan sesuai kaidah pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Wujud nyata tersebut antara lain; ¹Menjaga keseimbangan ekositem dalam tanah dengan pengembalian sisa tanaman seperti seresah, daduk tebu, blotong, abu ketel dan pemberian biokompos untuk menjaga kesuburan tanah. ²Menerapkan masa tanam optimal dengan harapan lingkungan dapat memenuhi kebutuhan tanaman secara optimal. ³Penggunaan agensia hayati Trichograma sp, Cotesia flavipes dan lalat jatiroto untuk mengendalikan hama penggerek tebu serta metarizium sebagai pengendali uret. Pengendalian penyakit dengan menggunakan varietas tahan, tidak menanam varietas rentan penyakit di daerah endemik penyakit dimaksud, pembibitan berjenjang yang terencana untuk menjaga kemurnian dan kesehatan bibit, Perlakuan air panas pada KBN untuk mengeliminasi berbagai penyakit. Pengunaan kebun bibit yang lolos uji sertifikasi, penghilangan sumber inokulum dengan eradikasi tanaman terinfeksi penyakit. Perlindungan bahan tanam dengan fungisida hanya pada varietas rentan didaerah endemik. Pengendalian gulma diawali pemetaan dan identifikasi gulma dikebun PTPN X untuk menentukan cara pengendalian. Pengendalian berbagai gulma merambat berdasarkan siklus waktu berbunga. Penentuan komposisi maupun dosis herbisida dan waktu aplikasi herbisida yang tepat sehingga pemakaiannya dapat ditekan serendah mungkin. Langkah-langkah tersebut merupakan peran PTPN X sebagai bagian dari segitiga ekosistem untuk menjaga keseimbangan ekosistem sehingga kesuburan tanah, gangguan OPT, dan pertumbuhan tanaman tebu dapat optimal dalam jangka waktu yang panjang.

KEGIATAN SEMINAR NASIONAL PEMBANGUNAN PERTANIAN III DI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Kegiatan Seminar Nasional Pembangunan Pertanian III
Di Universitas Brawijaya 
Tgl. 1 Desember 2018

Oleh : Sabar Dwi Komarrudin, S.P.
Dita Widi Atmaja, S.P.


I.      Dasar
1.    Surat Tugas PT. Perkebunan Nusantara X No. IC-PERPG/18.175 Tanggal 28 November 2018.

II.      Latar Belakang
Pertanian adalah pondasi dasar ekonomi bangsa, dengan pembangunan pertanian yang baik akan berimbasa pada perekonomian yang stabil. Pembangunan pertanian terhadap perekonomian suatu bangsa adalah berbanding lurus. Suatu bangsa dapat dikatakan menjadai bangsa yang maju apabila seluruh kebutuhan primer rakyatnya terpenuhi yaitu pangan. Teknologi mobile juga dapat digunakan inovasi pertanian. Ini bertujuan untuk meningkatkan peluang bagi petani dalam mengakses informasi tentang komoditas pertanian melalui layanan informasi tentang komoditas pertanian. Layanan informasi berbasis mobile diperlukan pada saat petani membutuhkan informasi pertanian yang cepat. Sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk mengetahuinya, terutama tentang komoditas seperti harga bibit dan ketersediaan pupuk, harga komoditas di pasar, luas tanaman komoditas, prediski masa panen dan sarana panen dan sarana untuk mengumpulkan kelompok tani.

Thursday, 15 November 2018

PUSLIT GULA MENGIKUTI SEMINAR SEHARI DI BALITTAS DALAM TEMA “STATUS DAN INOVASI TEKNOLOGI TANAMAN TEBU” DI MALANG – JAWA TIMUR


Pada Tanggal 15 Nopember 2018 Puslit Gula mengikuti seminar dan mengisi pameran sehari di Balai Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) di Malang.

Seminar hasil proyek ACIAR HORT/2012/083 kerjasama antara SRA (Sugar Research Australia), P3GI, BALITTAS, dan IPB dengan fokus utma kegiatan penelitian Pengendalian Terpadu Penyakit Mosaik Bergaris pada Tebu di Indonesia dilaksanakan selama sehari tanggal 15 November 2018 di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Seminar ini diiukuti oleh sekitar 252 orang yang berasal dari peneliti, akademisi, petani, pemangku kebijakan, BUMN, dan Swasta yang bergerak di bidang tebu/gula.

Tuesday, 13 November 2018

KEGIATAN SURVEILEN KOMITE AKREDITASI NASIONAL (KAN) DI LABORATORIUM PENGUJIAN TANAH DAN PUPUK PUSLIT GULA 10



Pada tanggal 13 November 2018 telah dilaksanakan kegiatan survailen Laboratorium Pengujian Tanah dan Pupuk Puslit Gula PTPN X oleh Tim Asesmen dari Komite Akreditasi Nasional (KAN). Kegiatan ini merupakan kunjungan survailen kedua oleh KAN setelah dua tahun pemberian status akreditasi  terhadap Laboratorium Pengujian Tanah dan Pupuk Puslit Gula PTPN X. Perlu diketahui bahwa Laboratorium Pengujian Tanah dan Pupuk Puslit Gula PTPN X telah terakreditasi oleh KAN sejak tahun 2011. Kegiatan survailen ini bertujuan untuk memastikan kompetensi setiap laboratorium yang telah memiliki sertifikat akreditasi sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam standar penilaian kesesuaian.

Wednesday, 17 October 2018

Aplikasi Fungisida untuk Meningkatkan Daya Perkecambahan Bibit Tebu dengan Perlakuan Air Panas/Hot Water Treatment (HWT)

Oleh :
Dita Widi Atmaja,SP.,  Sudarno

ABSTRACK

Perlakuan air panas/Hot water treatment (HWT) pada bibit merupakan salah satu cara untuk memperoleh bibit tebu yang terbebas dari beberapa jenis penyakit, antara lain penyakit Ratoon Stunting disease dan smut, tetapi perlakuan HWT dapat menurunkan daya perkecambahan bibit tebu hingga 20%-30%. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui cara meningkatkan daya perkecambahan bibit hasil HWT dengan aplikasi fungisida pada bibit. Percobaan dilakukan di Puslit gula Jengkol desa Plosokidul kecamatan Plosoklaten kabupaten Kediri,Jawa timur pada bulan Juli-Agustus 2018.

PENGARUH PENAMBAHAN FUNGISIDA PADA PAKAN BUATAN LARVA CHILO SACCHARIPHAGUS TERHADAP PERTUMBUHAN JAMUR


Oleh : 
SABAR DWI KOMARRUDIN1)
1)Pusat Penelitian Gula, PT Perkebunan Nusantara X

Abstrak

Pada pembiakan parasitoid Cotesia flavipes sebagai musuh alami hama Penggerek Batang Tebu (Chilo saccharipaghus) menggunakan pakan buatan sebagai pengganti sogolan tebu. Jamur yang tumbuh pada media pakan buatan meyebabkan media pakan tidak bisa dipakai lagi. Selain merusak kandungan nutrisi media pakan, jamur juga menyebabkan pertumbuhan larva terganggu. Penambahan fungisida diharapkan mampu menekan pertumbuhan jamur yang ada pada media pakan sehingga pertumbuhan larva juga normal. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan dengan 3 ulangan. yaitu T1 (Media Pakan + Fungisida berbahan aktif benomil), T2 (Media Pakan + Fungisida berbahan aktif flutriafol) dan T3 Kontrol (Media Pakan tanpa penambahan fungisida). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur tidak tumbuh pada T1 dan pertumbuhan larva tidak terpengaruh dengan adanya penambahan fungisida.

Kata Kuci: fungisida, pakan, jamur, Cotesia flavipes , Chilo saccharipaghus

Friday, 12 October 2018

RAPAT KOORDINASI PERSIAPAN SURVAILEN KAN TAHUN 2018



Pada hari Jumat tanggal 12 Oktober 2018 Puslit Gula Jengkol mengadakan rapat koordinasi persiapan survailen KAN untuk Laboratorium Pengujian Tanah dan Pupuk.

Wednesday, 26 September 2018

PENGENDALIAN PENYAKIT LUKA API DENGAN PENYEMPROTAN FUNGISIDA PADA BIBIT TEBU SEBELUM TANAM


Oleh : 
Dita Widi Atmaja,S.P
Muliah

ABSTRAK
Penyakit luka api disebabkan oleh jamur  Sporisorium scitamineum. Penyakit ini terus menyebar di Indonesia, pada tahun 2017 tingkat infeksi luka api di wilayah kerja PTPN X mencapai 27,31% dan terus berkembang hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan cara pengendalian penyakit luka api yang efektif dan aplikatif pada tanaman tebu sampai ditemukan varietas tahan luka api. Penelitian dilakukan pada bulan November 2017 di desa Plosokidul kecamatan Plosoklaten kabupaten Kediri,Jawa timur. Peneltian terdiri dari 3 perlakuan dengan 1 perlakuan sebagai kontrol, masing-masing perlakuan sebanyak 3 ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 10 juring dengan panjang 10 meter. Perlakuan berupa aplikasi fungisida bahan aktif flutriafol dengan cara disemprotkan pada bibit tebu 2 jam sebelum tanam dengan dosis 1ml/L dan 2 ml/L. Kontrol berupa bibit yang tidak disemprot fungisida. Semua perlakuan dihitung tingkat infeksi luka api pada setiap bulan selama 7 bulan.  
 Tanaman dengan perlakuan fungisida dosis 2 ml/liter bebas infeksi luka api sampai umur 6 bulan, tanaman menunjukan gejala terinfeksi pada umur 7 bulan (1,27%). Pada dosis 1 ml/liter, infeksi luka api terjadi pada umur 4 bulan (0,37%) hingga menjadi 2,25% pada umur 7 bulan. Pada tanaman kontrol gejala luka api mulai terlihat pada umur 3 bulan dengan tingkat infeksi 1,08% kemudian naik sampai 9,98% pada umur 7 bulan. Penyemprotan fungisida flutriafol 2ml/L terbukti mampu menekan penyebaran penyakit luka api.  

Keywords : Tebu, Fungisida, Luka api.