Thursday, 28 February 2013

Agribis Tebu Plus

Oleh : Ir. Budiarto, MMA

PENDAHULUAN
            Agribisnis tebu mempunyai peluang yang besar, mengingat sampai saat ini Indonesia masih mengimport gula, di samping itu dukungan sumberdaya juga tersedia cukup. Akan tetapi realitasnya agrisbisnis tebu masih belum menjanjikan, karena HPP Gula di tingkat petani masih relatif tinggi, sehingga pada saat ini dan ke depan kalau tidak diantisipasi juga tidak kompeittif. 

Tingginya HPP tersebut secara teknis disebabkan produktifitas hablur yang masih rendah dan secara ekonomi karena biaya produksi yang tinggi. Secara teknis penyebab rendahnya produktifitas adalah tingkat kesuburan tanah, pengairan dan perubahan iklim yang serta tidak diantisipasinya masalah-masalah tersebut melalui kajian budidaya secara sistematis.

Adapun masalah krusial yang dihadapi dalam pengembangan agribisnis tebu secara umum adalah skala usaha kecil, cakupan usaha sempit, masa tunggu relatif lama, kerumitan teknologi, kerumitan manajemen dan rendahnya investasi alat-alat pertanian di tingkat petani. Sebagai ilustrasi dengan pemilikan lahan yang rata-rata hanya 0,250 Ha per orang, maka yang bersangkutan  akan mengalami kesulitan likuiditas bila menanam tebu yang waktu tunggunya relatif lebih lama ( 12 – 16 ) bulan. Apabila SHU Rp 20.000.000,-/Ha, maka dia akan mendapatkan hasil Rp 5.000.000,-per pemilik dalam waktu selama sekitar 14 bulan. Di samping itu petani juga akan kehilangan kesempatan untuk mengusahakan tanaman non tebu yang umurnya lebih pendek seperti padi, jagung dan lain-lain. Oleh karena itu masalah krusial tersebut harus diatasi dengan baik, agar agribisnis tebu bisa berkembang berangkat dari akar masalah yang sebenarnya.

Tulisan ini mencoba membuat model agribisnis tebu berbasis sumberdaya yang terbatas, harus dikelola dengan efetif dan efisien sehingga mampu bersaing di pasar global. Adapun sasarannya adalah peningkatan produktifitas & produksi gula, kesejahteraan petani dan perusahaan, melalui pengembangan mix farming tebu dengan peternakan.  

POTRET AGRIBISNIS TEBU  
Input Agro Suppley
Tebu yang yang digiling oleh PG di PTPN10 sebagian besar berasal dari tebu rakyat (TR). Dalam program TR sudah sejak lama Jenis dan dosis pupuk yang digunakan ditentukan bersadarkan paket kredit berupa ZA dan Phonskha bersubsidi dengan dosis masing-masing 4 Ku dan 5 Ku per Ha. Solusinya mengingat sebagian besar lahan sudah lama/berkali-kali ditanami tebu hingga tingkat kesuburannya rendah, maka pemupukannya perlu dikaji lagi atas dasar analisa tanah, sedangkan pengadaan pupuk tetap dilaksanakan oleh Koperasai ( KUD/KPTR )

Untuk penggunaan kompos bagi kebun TS adalah wajib adapun dosisnya 10 – 20 ton/Ha sedangkan untuk PTR dosisnya 5 – 10 ton/Ha. Kompos yang digunakan dibuat dari blotong dan abu ketel dan dibuat oleh  masing-masing PG sekaligus dalam pengadaannya.

Bibit merupakan faktor produksi yang sangat penting, akan tetapi saat ini mutu dan jumlahnya masih kurang. Sebaiknya pengadaan kebun bibit tingkat tinggi ( G1-G2 ) dilakukan oleh Penelitian Gula Jengkol, kebun G3 oleh PG sedangkan untuk kebun G4 oleh PG dan atau PTR dalam bentuk kerjasama.

Penggunaan pestisida dan bahan-bahan lain di tingkat petani masih masih rendah. Penggunaan pestisida dan bahan lain dilakukan sendiri oleh petani yaitu membelinya di toko/kios bahan dan alat pertanian.

Keberadaan energy mulai dipertimbangkan penggunaannya untuk strerilisasi media, mesin bor budchips, HWT & drip irrigation. Pengadaan energy sebagi faktor produksi di bagian onfarm belum mendapatkan perhatian secara luas. Sebaiknya untuk pengeboran tunas mata dan perlakuan HWT disentral pada tempat yang mempunyai sumber listrik > 3500 watt sedangkan untuk semai dan penanaman di seed tray dapat dilakukan di tempat lain.

Usaha tani
Sasaran utama usaha tani adalah efisiensi, baik efisiensi teknis maupun ekonomis. Efisiensi teknis adalah persentase antara produktifitas hablur dengan sasarannya ( RKAP/Nasional ), yang mana semakin tinggi persentasenya semakin baik dan sebaliknya. Misal produktifitas hablur 145 Ku/Ha sedangkan sasarannya 100 Ku/Ha maka efiensi teknis 145% artinya sangat efisien. Efisiensi ekonomi adalah persentase antara HPP Gula di tingkat kebun dengan harga gula import, yang mana semakin rendah nilainya semakin baik dan sebaliknya. Misal HPP Gula $ 55/Ku sedangkan harga gula import $ 80/Ku, prosentasenya 69% berarti sangat efisien.

Skala usaha kecil, yang antara lain dicirikan oleh status lahan, luasan lahan sempit dan modal terbatas disertai oleh masa tunggu yang lama menjadi kendala utama dalam pengembangan agribisnis tebu.  Luasan yang sempit terjadi karena fragmentasi akibat pembagian warisan dari orang tua kepada anak-anaknya. Disamping itu berkurangnya lahan untuk tebu terjadi karena tingginya laju alih guna lahan baik untuk bangunan maupun infrastruktur jalan.  Dengan skala usaha yang sempit dan waktu tunggu akan menyulitkan likuiditas keuangan bagi petani yang bersangkutan.

Di samping modal terbatas dan luas lahan kecil, maka kerumitan manajemen dan teknologi juga menyebabkan animo petani untuk menanam tebu menjadi berkurang. Hal ini dkarenakan petani memerlukan uang tunai yang mudah, cepat dan transparasi perhitungan rendemennya. Dengan cakupan usaha yang sempit, bila petani sudah menanam tebu maka kesempatan untuk mengusahakan tanaman lain atau hasil dalam bentuk yang lain pada lahan yang sama tidak ada. 

Penggunaan bibit budchips 10.000 – 12.000 per Ha senilai Rp 5.000.000,- - Rp 6.600.000,- merupakan alternatif yang paling memungkin untuk mendapatkan SHU yang tinggi/memadai. Dengan penggunaan jumlah bibit seperti itu maka jumlah batang giling ( millable cane ) bisa mencapai 10 batang/budchips sedang dengan penggunaan 20.000 budchips/Ha maka MC hanya 5 batang/budchips. Dalam hubungan input-input tersebut maka produksi yang sama 100.000 batang (MC)/Ha bisa dicapai dengan penggunaan bibit budchips 10.000/Ha senilai Rp 5.500.000,-/Ha atau 20.000 budchips/Ha senilai Rp 11.000.000,-/Ha. Oleh karena itu penggunaan 10.000 budchips/Ha secara ekonomi dapat menghemat biaya bibit Rp Rp 5.500.000,-/Ha.

Kontribusi dosis pupuk terhadap produksi dapat mencapai 135 terhadap produksi dosis konvensional. Penambahan dosis pupuk N 25% dari dosis pupuk konvensional, secara ekonomi dapat menaikan pendapatan yang significant bagi produksi tanaman budchips.

Pekerjaan potong induk budchips 4 MST dengan biaya berkisar Rp 200.000,-/Ha dapat memberikan nilai tambah atau pendapatan gula dan pendapat yang sangat significant dibanding dengan yang tidak diptong batang induknya.

Penggunaan energy seperti gas dan listrik mulai diperhitungkan. Untuk pembuatan bibit budchip  tanpa perlakuan HWT dan tanpa steam pada media semai, maka bibit budchips yang jadi 172 (57%) sedangkan yang standard ( menggunakan HWT dan steam ) bibit yang jadi 248 (83%) dari masing-masing 300 mata bibit. Secara ekonomi HPP bibit tanpa penggunaan energy tersebut Rp 675,-/Bc dibanding HPP standard Rp 465,-/Budchips. Dengan penggunaan bibit budchips standard 10.000/Ha maka dapat menghemat 10.000 budchips @ Rp 210,- = Rp 2.100.000,-/Ha.

Kerumitan manajemen dalam tatalaksana program tebu lebih sulit dari pada tanaman non tebu. Untuk mendapatkan kredit harus melalui prosedur yang relatif sulit dan membutuhkan waktu yang relatif lama.

Ketersediaan tenaga terampil untuk pekerjaan kebun secara manual sudah sangat berkurang, sehingga upah tenaga menjadi mahal dan mutu pekerjaan tidak sesuai yang mengakibatkan produktifitas dan SHU juga rendah. Sebaiknya gerakan penggunaan alatsintan harus segera dilaksanakan.

Berkaitan dengan usaha tani tersebut di atas maka sebaiknya diciptakan adanya penambahan hasil selama menanam dan menunggu panen. Dana terseut berupa pinjaman modal kerja untuk usaha tebu ( sewa lahan, biaya garap, saprodi & TA ) dan peternakan sapi ( pembelian hewan, kandang  & pemeliharaan ) beserta pengolahan limbahnya menjadi produk yang berguna ( kompos, makanan ternak dan biogas ).

Budidaya
Penerapan kultur teknis masih di bawah standard ditambah kondisi lingkungan yang kurang merupakan  penyebab kemandegan produktifitas lahan. Tingkat kesuburan tanah yang rendah, infrastruktur pengairan yang jelek dan iklim yang tidak bersahabat harus dikelola dengan baik agar sasaran tercapai. Lamanya penggunaan pupuk anorganik yang berlebihan menyebabkan kejenuhan tanah hingga mengakibatkan kemandegan produktifitas lahan.

Penggunaan bahan organik yang cukup, dan memiliki kandungan mikroba potensial seperti penambat hara N dari udara, pelepas hara P, pengurai hara K, biopeptisida dan fitohormon maka akan dapat memperbaiki kesuburan tanah.

Dengan keragaman jenis tanah dan tingkat kesuburan yang bervariasi serta adanya varietas deskriptif, maka pendekatan prinsip Site Spesifik Agroecology menjadi alternatif solusi peningkatan produktifitas lahan. Untuk jenis dan dosis pupuk berdasarkan analisa tanah, varietas sesuai tipologi lahan dan untuk pekerjaan lainnya sesuai kondisi lingkungan.


Pengolahan hasil
Bahan baku yang digiling pabrik gula sebagian besar berasal tebu rakyat. Hubungan antara petani dengan pabrik gula merupakan kemitraan agrisbisnis, dimana petani sebagai pemasok BBT dan PG sebagai pengolah dalam kerjasama ekonomi secara bagi hasil atas dasar kesepakatan.

Kemitraan agribisnis yang dibangun adalah dalam sinergis mutualis, dimana PTPN/PG sebagai perusahaan besar mempunyai kewajiban untuk membina dan membesarkan serta menjalin hubungan yang harmonis dengan mitra kerjanya terutama petani TAD. 

Pada kerjasama ini kadang-kadang muncul masalah antara lain share of profit, share of responcibility dan share of risk. Untuk mengantisipasi masalah ini maka kemitraan ini harus dikelola dengan baik, dijaga selalu dalam keseimbangan dan kalau ada masalah diselesaikan dengan hasil win-win solution.

Perhitungan rendemen individu ( ARI ) yang diterapkan di semua PG dapat memberikan kepercayaan petani terhadap PG, dan akan lebih baik lagi apabila untuk PG-2 yang besar bisa menggunakan core sampler.

Adanya tebu wira-wiri yang terjadi sekarang ini menunjukkan kurang komitmen dan kemandirian masing-masing pihak, yang semesti harus ditangani agar tetap sesuai kewilayahannya masing-masing.

Riset Gula Jengkol
RGJ seperti faktor pendukung Program Pengembangan Tebu Rakyat lainnya mempunyai peranan sangat penting . Kami yakin bahwa kondisi tanah kita sudah mengalami kerusakan/kejenuhan akibat pemupukan anorganik yang sudah begitu lama sehingga terjadi kemandegan peningkatan produktifitasnya.

Sehubungan dengan itui Riset Gula Jengkol ( RGJ ) selalu berusaha memberikan kontribusi semaksimal mungkin terhadap kinerja perusahaan. Untuk maksud tersebut maka RGJ menerapkan salah satu strateginya yaitu peningkatan Kualitas pelayanan  sbb :
- Reliabilitas merupakan kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera dan memuaskan, handal, akurat dan konsisten dengan indikator masalah benar dan solusi benar.
-  Responsivennes, merupakan keinginan dari para petugas untuk membantu dan memberikan dengan tanggap dengan indikikator pelayanan cepat, ikhlas, kesiagaan merespon permintaan pelanggan.
-  Empathy, merupakan kemudahan dalam menjalin komunikasi yang baik dan memahami pelanggan dengan indikator peduli, kesan yang baik di hati dan memahami para pelanggan serta disiplin tinggi.
-  Assurance, merupakan kemampuan, kesopanan, kepercayaan, bebas dari bahaya, resiko atau keragu-raguan dengan indikator selalu sopan, mampu menanamkan kepercayaan, memberi rasa nyaman dan rasa aman kepada pelanggan.
-  Tangible merupakan fasilitas fisik perlengakapan dan sarana yang memadai, dengan indikator handal & canggih, menarik & memadai, profesional & lengkap. RGJ memiliki laboratorium tanah & pupuk sudah mendapatkan KAN, laboratorium kultur jaringan, dan laboratorium mikrobiologi yang cukup baik.

Adapun output secara keseluruhan berupa informasi, rekomendasi dan saran serta layanan produk RGJ antara lain :  
-   Mengidentifikasi kesuburan tanah terutama kandungan bahan organik, KTK, pH, unsur hara makro, mikro dan faktor biotik. Adapun hasilnya secara umum memprihatinkan. Sebagai ilustrsai hasil analisa tanah  HGU di suatu PG dari 38 kebun untuk kandungan BO semuanya sangat rendah - rendah sedangkan untuk KTK ( Kapasitas Tukar Kation ) sebanyak 30 kebun (62%) rendah dan sisanya 18 kebun sangat rendah. Tentang hara mikro yang penting, sebanyak 26 kebun kekurangan MgO, pada hal unsur hara tersebut sangat diperlukan sebagi penyusun chlorophyl yang berguna dalam proses fotosintesa tanaman tebu.
-    Dampak penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus adalah kejenuhan tanah yang berujung pada kemandegan peningkatan produktifitas meskipun dosis pemupukannya dari tahun ke tahun bertambah.
-   Mendapatkan varietas unggul baru untuk mengganti varietas lama yang sudah tidak produktif. RGJ pada 3 ( tiga ) tahun terakhir berhasil merilis Varietas VMC 76-16 dan PSJK 922 dan dalam tahun 2013 ini akan merilis varietas PS 92-1871 ( masak tengah – lambat ) bekerjasama dengan Propinsi Jawa Timur dan P3GI Pasuruan.
-  Memproduksi dekomposer Bio N10 ( sudah terdaftar di Kemenkum & Ham dan Ijin edar dari Kementan RI ) dan hasil komposnya mengandung mikroba potensial yang memenuhi sebagi pupuk hayati. Ini sangat diperlukan untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah, karena bahan organik sebagai faktor utama dalam sustainable agriculture
-  Penyedia bibit varietas tinggi ( G2 ) untuk bahan tanam G3 di PG dan penyedia varietas lain yang dibutuhkan oleh PG maupun petani.
-   Mendatangkan varietas GMP 2, GMP3 dan GPM 4 dari GMP Plantations untuk lahan kering dan PS 92-1871 untuk pengembangan Madura, Tulabo dan lahan kering lainnya.
-   Merakit varietas baru melalui persilangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain.

AGRIBISNIS BERBASIS SUMBERDAYA
Manusia Bersumberdaya
Pada masa lalu kita masih memiliki/menguasai sumberdaya dan dana secara maksimal untuk membangun keunngulan komparatif dengan bertumpu pada skala dan ukuran usaha, melalui keunggulan berbasis sumberdaya.

Kini dan ke depan menjadi kelompok belajar yang adaptif, proaktif dan gesit untuk membangun keunggulan kompetitif yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pelanggan melalui keunggulan berbasis manusia bersumberdaya. Adapun manusia bersmber daya yang dimaksud adalah mempunyai wawasan, aspiratif, etika dan motivasi semangat belajar ionvatif untuk menjadi SDM yang kompeten berkomitmen tinggi.
Untuk maksud tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan
-   Individual mastery, yaitu menjadikan petani kompeten ( sebagai master ) melalui pendidikan & pelaltih, study banding dan laku di bidang pertebuan, peternakan sapi dan pengelolaan limbahnya sesuai model agribisnis yang dibentuk.
-  Establish group, membentuk kelompok usaha tani dengan pembagian tugas sesuai keahlian, misal untuk tebu ( bibitan, TG dan TA ), ternak sapi ( feeding, pemasaran ) dan pengolahan limbah agroindustri ( pupuk kompos, pakan ternak & bioenergy )
-  Option technology, yaitu pilihan teknology untuk jenis usaha yang paling memungkinkan sesuai bidang keahlian dan peluang bisnis yang ada.

Adapun tujuan adalah pemberdayaan manusia bersumberdaya untuk meningkatkan kreatifitas dan inovasi dalam upaya meningkatkan efisiensi usaha, melalui kegiatan mix farming tanaman tebu dengan peternakan sapi.

Sumberdaya Alam
 Sumber daya alam seperti tanah sekarang sudah semakin terbatas dan nilai ekonominya semakin tinggi akibat dari alih guna lahan secara tidak terkendali untuk bangunan perumahan, supermaket, pabrik dan jalan.

Air semakin sulit didapat, disamping infrastruktur pengairannya juga karena sumber air yang rusak akibat penggundulan hutan dan pengendalian DAS yang tidak memadai. Iklim tidak menentu dan sulit diprediksi merupakan faktor yang harus dikelola dengan sebaik-baiknya untuk menekan resiko yang mungkin terjadi.  

Perbaikan kesuburan tanah melalui pemberian kompos yang mengandung mikroba, pengaturan drainase dan pH tanah melaui pemberian kapur tanaman/dolomit pada tanah asam sebaiknya segera dilakukan.

Mengingat ketersediaannya sudah mulai terbatas maka semua sumberdaya alam dan buatan ( kompos ) harus dikelola secara efektif dan efisien, sehingga mampu memenuhi harapan petani.

Dengan mix farming keterbatasan tenaga kerja terampil dapat diatasi dengan penggunaan tenaga sapi, sedangkan untuk implemennya menggunakan sontop mardiyo terutama untuk lahan ringan

Sumberdaya Rekayasa
Atas dasar kendala seperti : tingkat kesuburan tanah, skala usaha, cakupan usaha, waktu tunggu, kerumitan manjemen  dan kerumitan teknology pada agrisbisnis tebu, maka untuk mengantisipasi agar kinerja agrisbisnis tebu tepap eksis maka dilakukan diversifikasi usaha atau mix farming Tebu – Sapi.

Untuk budidaya tebu dilakukan sesuai teknology yang ada, sedangkan untuk limbah blotong dan abu ketel digunakan sebagai kompos dan daduk basah/momol tebu dijadikan makanan ternak. Dalam hal ini petani mendapatkan hasil utama berupa gula dan hasil samping makanan ternak dari bahan baku daduk basah dan momol eks tebangan.

Demikian juga untuk ternak dikelola sesuai teknology yang ada, sedangkan limbah kotoran, faces dan air kencing dapat digunakan sebagai pupuk atau bioenergy. Untuk kegiatan ini petani mendapatkan hasil berupa daging dan kotorannya pupuk untuk tanaman tebu.

Adapun keuntungan lain dengan mix farming tebu – sapi :
-   Pembuatan kompos berbahan baku  blotong + abu ketel  dengan bio N10 digunakan lagi sebagai input produksi tanaman tebu,
-  Pemanfaatan kotoran ternak dan daduk kering dengan perlakuan mikroba digunakan sebagai pupuk organik
-  Pembuatan pakan ternak dari daduk basah + momol tebu dengan proses silase dan pengkayaan protein  pada daduk kering sebagai pakan ternak
-   Bioenergy dari kotoran ternak dan limbah lainnya.
-   Sapi bisa digunakan sebagai ternak kerja, untuk mengganti kelangkaan tenaga manusia

MODEL AGRISBIS TEBU PLUSS
Kelompok Perkebunan Tebu
Tanaman tebu bisa berupa hamparan atau terpencar dengan luasan > 5,0 Ha. Pada program ini petani mendapat pinjaman modal kerja dari pemerintah, untuk keperluan sewa lahan (60%), saprodi, biaya  garap dan tebang angkut yang nilai sekitar Rp 45.000.000,-/Ha. Dengan asumsi luas per pemilik 0,250 Ha maka untuk tiap 1 Ha ada 4 orang pemilik yang mendapatkan pinjaman ternak sapi.

Pengelolaan tanaman tebu mengarah ke mekanisasi atau semi mekanisasi sesuai standard baku yang ada. Pendanaan untuk pinjaman modal kerja berasal dari PKBL atau kredit TR. Pinjaman uang sewa dikandung maksud untuk biaya hidup mereka apabila tanah tersebut tanahnya sendiri,

Dengan pinjaman pokok Rp 45.000.000,-/Ha apabila menginginkan B/C ratio 1,2 maka produksi minimal yang harus dicapai : tebu 1.200 Ku/Ha, rendemen 8,5% dan hablurnya 102 Ku/Ha. Angka ini realistis artinya dapat dicapai apabila input produksi digunakan secara optimal dan pekerjaan kebun dilaksanakan dengan baik.

Limbah agribisnis tebu berupa blotong dan abu ketel sudah dapat dihiutung beratnya bahkan sudah dapat dijadikan bahan baku pupuk kompos blotong yang sangat berguna. Limbah lain seperti daduk basah/kering dan momol tebangan belum sempat dihitung dengan pasi, akan tetapi yang jelas dapat dimanfaat sebagai bahan baku pupuk dan makanan ternak.

Petani pemilik LAHAN di samping mendapatkan modal kerja untuk tanaman tebu, juga mendapatkan pinjaman modal kerja untuk usaha peternakan sapi. Mix farming ini untuk menjawab tantangan terhadap keterbatasan dan kendala yang ada.

Kelompok peternakanSapi
            Usaha pendamping yang Untuk bisa sinergikan dengan perkebunan tebu adalah peternakan sapi karena keduanya dapat saling mengisi. Usaha peternakan ini bisa untuk pedaging dan atau mendapatkan “ Pedet “ anak sapi.
            
Kredit modal kerja yang diperlukan mulai pembelian pedet, pemeliharaan dan pakannya sampai menghasilkan daging dan pedet kira-kira membutuhkan dana Rp 17.500.000,- per ekor.

Hasil limbah ( kotoran, tinja & air kencing ) ternak belum dihitung, akan tetapi yang jelas bisa digunakan untuk pupuk kandang dan bioenergy. Bahan tersebut merupakan input produksi bagi usaha tebu.

Diversifikasi Usaha
Kredit modal kerja yang diperlukan untuk usaha tebu Rp 45.000.000,-/Ha dan untuk sapi Rp 17.500.000,-/Ha. Dengan asumsi luas pemilikan lahan 0,500 Ha per orang, maka kredit modal kerja yang diperlukan untuk mix farming tebu sapi Rp 80.000.000,-/Ha untuk sekitar 2 orang pemilik laha. Dana ini bisa berasal dari PKBl maupun kredit modal kerja dari bank melalui koperasi.  
Keuntungan yang akan didapat dengan usaha ini adalah pendapatan ( SHU ) dari usaha tebu dan sapi, perbaikan kesuburan tanah, penghematan biaya penggunaan pupuk, peningkatan produktifitas lahan dan untuk jangka panjang adalah Sustainable Agriculture untuk generasi mendatang.