Tuesday, 18 December 2012

Pelatihan Pengendalian Terpadu Hama Uret Pada Tanaman Tebu


Hama merupakan salah satu faktor kendala dalam budidaya tebu. Salah satu hama penting pada pertanaman tebu di lahan tegalan (kering) adalah uret. Uret merupakan hama endemik di HGU Jengkol, PG Pesantren Baru dan HGU Sumber Lumbu, PG Ngadiredjo dimana pada masa giling tahun 2012 ini menjadi salah satu faktor yang menurunkan produktivitas. Menurut Etik M. Achadian, peneliti Kelti Proteksi Tanaman P3GI Pasuruan, sebagian besar jenis uret yang menyerang tanaman tebu adalah Lepidiota stigma dan Euchlora viridis. Namun, jenis uret yang paling banyak menimbulkan kerugian pada pertanaman tebu di Jawa khususnya di wilayah PTPN X adalah Lepidiota stigma.

Penyampaian materi pengendalian terpadu hama uret


Sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hama uret dan meningkatkan pengetahuan petugas tanaman mengenai pengendaliannya, maka dilaksanakan Pelatihan Pengendalian Terpadu Hama Uret Pada Tanaman Tebu pada tanggal 12-13 Desember 2012 di HGU Sumber Lumbu, PG Ngadiredjo. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Penelitian Gula Jengkol bekerjasama dengan P3GI Pasuruan dan BSES Australia yang didanai oleh ACIAR Project Hort 2006/147. Pelatihan diikuti oleh kurang lebih 50 peserta yang terdiri dari perwakilan SKW dan RC QC On Farm seluruh Pabrik Gula se-PTPN X serta Unit Pengembangan Tuban Bojonegoro, koordinator HGU Jengkol dan HGU Sumber Lumbu, serta Penelitian Gula Jengkol.

    
Light trap imago uret

Pengendalian uret secara mekanis meliputi pengumpulan larva atau uret secara manual pada saat pengolahan tanah (bajak dan air), pengendalian imago secara mekanis menggunakan light trap. Pengendalian secara kultur teknis meliputi pengaturan masa tanam tebu, pengolahan tanah secara intensif, pergiliran tanaman, serta penggunaan tanaman perangkap. Sedangkan pengendalian secara biologis menggunakan parasitoid dan predator, namun yang paling banyak dilakukan adalah penggunaan jamur entomopathogen Metarhizium anisopliae dan Beauveria sp. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan penggunaan insektisida berbahan aktif carbofuran seperti Furadan 3G, Indofuran 3G, dan Petrofur 3G, maupun Diazinon 10G.

Praktek lapang aplikasi insektisida semprot

Granuler jamur entomopathogenik Metarhizium anisopliae

Setelah materi kelas, pelatihan dilanjutkan dengan praktek lapang light trap pada sore harinya, yang bertujuan untuk mengendalikan dan memonitor hama uret dengan cara menangkap imago yang terkena jebakan cahaya. Awal musim hujan  (Oktober-Desember) merupakan saat dimana fase imago uret melakukan penerbangan untuk mencari pasangan (kawin) dan makan. Waktu pelaksanaan light trap yang paling tepat dilakukan pada pukul 18.00-19.00 WIB.
Pada hari kedua pelatihan dilakukan praktek lapang aplikasi insektisida dengan cara semprot dan injeksi serta aplikasi jamur entomopathogen Metarhizium anisopliae produksi P3GI Pasuruan. Aplikasi insektisida dengan cara disemprot dilakukan bersamaan tanam, sedangkan cara injeksi dilakukan pada tanaman tebu yang sudah tumbuh (± umur 2 bulan) maupun pada tanaman ratoon. Setelah praktek lapang, dilanjutkan pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengendalian Terpadu Hama Uret untuk seluruh wilayah kerja PTPN X. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat serta menularkannya kepada petugas lain dan para petani khususnya, sehingga populasi hama uret dapat ditekan yang akhirnya akan berdampak pada pengamanan produktivitas. (Shadan)