Thursday, 28 February 2013

Dibalik Manisnya Gula

Oleh : Totok



Dibalik manisnya gula,ada sebuah perjuangan. Dimana perjuangan itu ialah upaya mengoptimalkan pertumbuhan tanaman tebu yang menghasilkan gula, tumbuh bagus dengan produksi tinggi.Peran serta penelitian sangat dibutuhkan dalam rangka peningkatan kualitas tanah terhadap pertumbuhan tanaman tebu.            
      Laboratorium penguji tanah dan pupuk merupakan sebuah instansi yang telah terakreditasi nasional, dibawah naungan bidang penelitian kantor direksi surabaya yang dimiliki oleh PTPN X, laboratorium tanah dan pupuk  juga membantu para unit Pabrik Gula lingkup PTPN X. Disisi lain laboratorium tanah juga merupakan sebuah unit usaha yang bergerak di bidang jasa analisis umum, tentunya disisi lain dengan pencapaian laba sebagai orientasi utama.
            
           Didalam era globalisasi, yang pada hakekatnya adalah masa persaingan global secara nasional dan internasional. Teknologi semakin berkembang  tantangan global telah dimulai. Tuntutan produktivitas yang semakin tinggi,sedangkan kondisi tanah semakin lama mengalami penurunan unsur hara, ini merupakan tantangan tersendiri bagi PTPN X, untuk mewujudkan tujuan bersma perusahaan dalam menghadapi globalisasi.

             Sayangnya keadaan tanah sebagai media pertumbuhan tebu saat ini mengalami kemerosotan unsur organik. bagaimana bisa ketika impian Swasembada gula tercapai,tapi keadaan tanah yang membawa pertumbuhan tanaman tebu miskin akan unsur hara ?. Artinya bahwa,ketika unsur hara organik pada tanah tinggi,maka tanaman pun akan tumbuh secara optimal. Dan berdampak pada Produktivitas yang maximum.

 Tanah adalah media bagi tanaman penghasil gula tersebut, sayangnya saat ini tanah terjadi penurunan dalam unsur Organik,padahal tanpa bahan organik tanaman dalam petumbuhannya kurang masimal. Kandungan bahan organik  di kebanyakan tanah saat ini terdapat indikasi semakin merosot.  Sekitar 80 % lahan kandungan C organik tanahnya kurang dari 1 %, pada lahan-lahan kering.  Kandungan C organik kurang dari 1 % menyebabkan tanah tidak mampu menyediakan unsur hara yang cukup, disamping itu unsur hara yang diberikan melalui pupuk tidak mampu dipegang oleh komponen tanah sehingga mudah tercuci, kapasitas tukar kation menurun, agregasi tanah melemah, unsur hara mikro mudah tercuci dan daya mengikat air menurun1(1).
 
Pada tanah dengan kandungan C organik rendah menyebabkan kebutuhan pemupukan nitrogen makin meningkat dengan efisiensi  yang merosot,  akibat tingginya tingkat pencucian.  hal tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh PTPN X beserta semua lingkup Pusat penelitian dan  Pabrik Gula.

kekurangan suatu unsur pada media tumbuh tanaman dapat mengganggu pertumbuhan melalui : kompetisi dengan unsur esensial lain dalam penyerapan, menonaktifkan enzim, mengantikan unsur-unsur esensial dari tempat berfungsinya atau mengubah struktur air.  Oleh karena itu agar tanaman toleran  terhadap kelebihan NaCl pada media tumbuhnya, harus mengurangi absorbsi ion Na dan atau ion Cl oleh akar atau mempunyai berbagai cara menetralkan (buffer) pengaruh NaCl dilingkungan perakaran atau setelah diserap tanaman(2).
Bahan organik seperti limbah tanaman, pupuk hijau, limbah sisa penggilingan tebu/blotong, dan tetes, dalam sistem tanah-tanaman dapat memperbaiki struktur tanah dan membantu perkembangan mokroorganisme tanah. Kondisi ini sebagai awal mula proses transformasi N secara biologis dalam tanah dan, menghasilkan konversi bentuk N  organik menjadi bentuk an organik yang tersedia bagi tanaman.
Hal tersebut telah dilakukan denga percobaan yang telah dilakukan oleh tim Laboratorium Puslit  Gula jengkol, 1.Blotong + Abu 100 ton/ha ( 3:1 ) +Bio N 400 lt/ha + 100% Anorganik. 2. Kompos 10 ton/ha + 100 % Anorganik   3. Kompos 38 ton/ha dengan Mekanisasi.  4. Kompos 38 ton/ha dengan TaburAl hasil, dilihat dari jumlah batang pada umur 6 bulan,perlakuan pertama mempunyai nilai yang tinggi dibanding perlakuan 2, 3, dan ke 4.yaitu rata-rata jumlah batabg 160,  dengan tinggi batang rata-rata 212 Cm dengan diameter 312(3).
Dengan demikian, pemberian Blotong + Abu 100 ton/ha ( 3:1 ) +Bio N 400 lt/ha + 100% Anorganik, lebih unggul di banding pada perlakuan yang lain, berdasarkan percobaan yang dilakukan, serapan nitrogen dan aktivitas nitrat reduktse blotong Efisiensi serapan nitrogen pupuk organik lebih tinggi dibanding perlakuan yang lain.
 Penggunanan pupuk organik tingkat bahan C-organik tanah yang tinggi pada tanah dapat diharapkan memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologi tanah sehingga dapat mendukung keberhasilan pertumbuhan tanaman tebu dengan maximal.
 Akankah usaha untuk memperkaya hara dalam tanah akan menjadi wacana utama dalam perkembangan serta produktivitas gula ? Atau masih membiarkan tanah yang seyogyanya semakin lama semakin menurun unsur haranya ?
Tuntutan akan peningkatan Produktifitas gula semakin tinggi,seraya mengepakkan sayapnya, Laboratorium tanah sebagai salah satu bidang pusat penelitian gula jengkol akan siap menghadapi segala tantangan, dan membantu semua Pabrik gula, guna memperkaya unsurhara pada tanah, hingga mencapai produktivitas maksimum.







Daftar Pustaka :
[1] . Haryadi, S. S. dan S. Yahya.  1988.  Fisiologi Stres Lingkungan.  PAU-IPB, Bogor.
2 . Aphani, 2001.  Kembali ke Pupuk Organik.  Kanwil Deptan Sumsel.  Sinartani. No. 2880.
3 .Dikutip dari data percobaan Blotong, Abu + Bio-N10. Di PG Penelitian Gula Jengkol.MT 2012/2013