Monday, 25 February 2013

Harta Atau Limbah Bud Chips ?

Oleh : Sayidatul Ahmad




“Sumber Manisnya Kehidupan”, adalah ungkapan yang tidak berlebihan untuk menggambarkan keistimewaan dari tanaman tebu. Kandungan glukosa dalam batang tebu yang sangat tinggi dibandingkan dengan tanaman lain, menjadikan  tanaman yang termasuk dalam jenis rumput – rumputan ini  sebagai bahan utama pembuatan gula.
Seiring berjalannya waktu, teknologi yang di terapkan guna memaksimalkan produktifitas tebupun kian berkembang. Salah satunya adalah teknologi pembibitan berupa bud chips.

Bud chips adalah teknologi pembibitan tebu yang dilakukan dengan cara mengebor secara melingkar di sekitar mata tunas dengan mengikut sertakan sebagian titik tumbuh akar. Teknologi yang di adopsi dari kolumbia ini mulai di gunakan di PTPN X sejak tahun 2011 lalu, dan sejak saat itu bud chips terus dikembangkan diseluruh pabrik gula ( PG ) yang ada di bawah naungan PTPN X.(1)
 
Kelebihan bud chips yang dapat memberikan jumlah anakan lebih banyak yang mampu bertahan hidup sampai fase generatif, di sinyalir merupakan penyebab bud chips begitu cepat diterima di Indonesia. bukan hanya PTPN X saja, namun para petani tebu dan industri - industri gula yang lainnyapun saat ini juga sudah banyak yang turut mengaplikasikan teknologi ini untuk pembibitan tebu mereka, bahkan sebagian dari mereka ada yang dengan sengaja memproduksi bud chips dengan skala besar untuk di perjual belikan.

Setiap harinya ribuan bud chips diproduksi oleh PG – PG PTPN X, proses produksi ini menyisakan daun tebu kering dan batang tebu muda bekas pengeboran. Sisa - sisa inilah yang masih jarang dimanfaatkan dan  cenderung dibuang karena dianggap sebagai limbah. Tetapi apakah benar bahwa yang dibuang itu adalah limbah? tunggu dulu, kita lihat dulu definisi dari limbah sebelum kita memutuskan apakah itu benar - benar limbah atau justru malah harta yang di buang?

Jika didefinisikan secara sederhana, limbah adalah suatu obyek lain yang di hasilkan dari suatu proses produksi yang biasanya dibuang karena dianggap tidak mempunyai nilai ekonomis lagi,(2)  lalu apakah daun dan batang sisa pengeboran bud chips itu benar - benar sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi?  

Daun dan batang tebu yang dianggap sebagai limbah bud chips sebenarnya memiliki nilai manfaat yang cukup banyak. Dengan sedikit sentuhan teknologi, sebenarnya kita mampu memanfaatkan daun dan batang tebu yang disisakan oleh bud chisps tersebut, sehingga menjadi sesuatu yang berharga dan berguna. Diantara manfaat yang dapat di peroleh adalah sesuatu yang sangat sederhana namun sangat berguna yaitu pupuk organik.  Pembuatan pupuk organik dari daun dan batang tebu cukup mudah, yaitu pertama, daun dan batang tebu dipisahkan, batang tebu kemudian diperas, dikeluarkan airnya dan disisakan ampas tebunya, tujuannya agar kandungan air tidak berlebihan, kemudian ampas tebu beserta daun kering tersebut dicacah dengan menggunakan alat kusuh sampai membentuk potongan – potongan kecil, hasil potongan tersebut kemudian dicampur dengan fermentan Bio N10  dan kotoran ternak secara merata. Setelah itu, hasil campuran tersebut ditutup rapat dengan menggunakan terpal atau bahan plastik lainnya, kemudian dibiarkan selama 3 – 4 minggu. Hasil dari fermentasian tersebut dapat diberikan kepada tanaman tebu sebagai pupuk organik,(3) Cukup mudah dan ekonomis bukan???

Selain dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, pemanfaatan lain yang juga tidak kalah sederhana dari daun dan batang tebu yang disisakan oleh bud chips yaitu pakan ternak fermentasi. Untuk membuat pakan ternak fermentasi sebanyak 10 kg, bahan -  bahan yang dibutuhkan adalah  10 kg daun kering ( daun tebu / daduk ), 2 kg bekatul, 2,5 kg tepung gaplek, 5 sendok makan tetes tebu, 10 garam, 6 liter air dan 3 sendok suplemen organik cair (SOC). Bahan – bahan tersebut kemudian ditambahkan batang tebu yang sudah dihilangkan airnya (sisa bud chips) secukupnya, hasil dari campuran tersebut kemudian didiamkan selama ± 2 jam, kemudian setelah itu dimasukkan ke dalam bak fermentasi dan ditutup rapat. Tunggu minimal 2 x 24 jam, pakan ternak siap disajikan untuk 3 ekor kambing selama 2 minggu.(4) Cukup sederhana namun memiliki nilai ekonomis yang cukup baik. Kalau seperti ini masihkah kita menganggap bahwa daun dan batang sisa bud chips itu sebagai limbah?.

Teknologi - teknologi diatas memang nampak sederhana, namun sebenarnya ini merupakan salah satu peluang yang cukup baik dalam upaya menghasilkan produk tebu non-gula yang lain selain bioetanol dan kompos Bio N10, sehingga selain dapat mengurangi limbah juga dapat menjadi income tambahan.

Masih ada fakta lain yang cukup membuat kita berfikir ulang untuk tidak menyia – nyiakan daun dan batang tebu yang disisakan oleh bud chips. Seperti yang pernah dilangsir oleh Kompasian.com, dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa saat ini Cina memiliki tenaga listrik daun tebu. Stasiun pembangkit listrik yang  memiliki kapasitas tahunan sebesar 180 juta kWh dan mampu menghemat emisi 100.000 ton karbon dioksida, 600 ton sulfur dioksida dan 400 ton debu jika dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan efisiensi yang sama, dimana pembangkit tersebut membutuhkan 200.000 ton per tahun dari limbah pertanian termasuk daun tebu dan kulit pohon untuk membangkitkan listrik dalam setahun. Dalam webset tersebut juga ditulis tentang produksi tebu di Indonesia yang  diperkirakan mencapai 33 juta ton per tahun, dari situ dapat dihasilkan limbah sebesar 6,3 juta ton berat kering yang berupa daun tebu dan trash, itu berarti Indonesia berpotensi menghasilkan listrik sebesar 5 juta Mwh per tahun dengan bahan bakar limbah tanaman tebu.(5) Cukup hebat bukan manfaat dari daun dan batang tebu yang disisahkan oleh bud chips? jika demikian, yang sudah kita sia – siakan selama ini Harta Atau Limbah Bud Chips?

Teknologi pemanfaatan limbah tebu seperti diatas sebenarnya bukanlah hal baru, hal serupa tapi dengan bahan baku yang berbeda sudah dilakukan oleh PTPN X, melalui program cogeneration yaitu menghasilkan listrik dari ampas tebu yang dilakukan sejak tahun lalu di PG Ngadirejo, Kediri.(6) Jika kita sudah mampu mengubah ampas tebu menjadi energi berupa listrik, kenapa kita tidak melakukan hal serupa dengan menggunakan daun kering dan batang muda sisa bud chips yang jumlahnya sangat melimpah disekitar kita?. 


DAFTAR PUSTAKA :

1.  Budiarto, 21 Februari 2013, Mendulang Gula Dengan Bud Chips, diunduh dari http://pusatpenelitiangula.blogspot.com/2013/02/bud-chips-mendulang-gula-menggapai_20.html, diunduh tanggal 23 Februari 2013
2.  Tim Teknis Pembangunan Sanitasi: BAPPENAS, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Dalam Negeri, Departemen Kesehatan, Departemen Perindustrian, Departemen Keuangan, dan Kementrian Negara Lingkungan Hidup, 2008, Limbah, diunduh dari http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah, diunduh tanggal 23 Februari 2013
3.  Anonym, 2011, Pelatihan Pupuk Organik di Kabupaten Jepara, diunduh dari http://mesin-murah.com/index.php/berita/71-pelatihan-pupuk-organik, diunduh tanggal 23 Februari 2013.
4.     Ton  Martono,   18 Maret 2012, Ton Marono Sulap Sampah Daun Jadi Pakan Ternak, diunduh dari http://karangrejek.net/?p=701, diunduh tanggal 23 Februari 2013
5.     Hasan   Muhammad. 23 Juli 2010, China Memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Daun Tebu, diunduh dari http://green.kompasiana.com/limbah/2010/07/23/china-memiliki-pembangkit-listrik-tenaga-daun-tebu/, diunduh tanggal 23 Februari 2013.
6.     Subiyono, 19 Februari 2013, Seriusi Produk Tebu Non-Gula, Jawa Pos disi Selasa, 19 Februari 2013.